GUNUNGKIDUL — Perjuangan dan tekad kuat mengantarkan seorang siswi asal Gunungkidul meraih impiannya menembus perguruan tinggi. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, Leni Ismawati (18) berhasil diterima di Program Studi Akuntansi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) sekaligus memperoleh beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol.
Leni berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja mengurus sawah dan ternak, sementara sang ibu kerap menjadi buruh tani untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Meski penghasilan tidak menentu, orang tuanya menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama.
Sang ibu mengaku selalu mendorong anaknya untuk terus sekolah dan tidak menyerah pada keadaan. Pengalaman orang tua yang tidak sempat menempuh pendidikan tinggi menjadi alasan kuat agar anaknya memiliki kesempatan yang lebih baik.
Dorongan dari keluarga menjadi bekal penting bagi Leni untuk berani mencoba mendaftar ke UGM. Sejak kecil, ia sudah memiliki cita-cita bisa berkuliah di kampus tersebut.
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak berjalan mudah. Saat menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Wonosari yang cukup jauh dari rumah, Leni harus tinggal sendiri dan belajar hidup mandiri. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, ia tidak mengikuti bimbingan belajar seperti sebagian teman-temannya dan memilih belajar secara mandiri.
Salah satu kebiasaan yang dijalani Leni adalah bangun dini hari sekitar pukul 02.00 untuk belajar. Konsistensi tersebut membuahkan hasil hingga ia berhasil meraih prestasi akademik yang mendukung langkahnya masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi.
Ketertarikannya pada bidang ekonomi mulai tumbuh sejak SMA dan semakin kuat ketika mulai mempelajari akuntansi secara lebih mendalam di kelas akhir. Selain aktif secara akademik, Leni juga mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan pernah berpartisipasi dalam Olimpiade Sains Nasional bidang ekonomi tingkat kabupaten.
Bagi Leni, belajar kini bukan lagi sekadar mengejar nilai atau penghargaan, tetapi menjadi jalan untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi masa depan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kondisi ekonomi bukan penentu akhir perjalanan pendidikan. Dengan dukungan keluarga, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar, kesempatan untuk meraih mimpi tetap terbuka.
Sumber: Universitas Gadjah Mada

0 comments:
Post a Comment