GUNUNGKIDUL – Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi Fecia Laura Revani (18) untuk meraih cita-citanya. Putri pasangan Subyono (51), seorang buruh tani, dan Puji (46), ibu rumah tangga, asal Padukuhan Tunggul Barat, Kapanewon Semanu, Gunungkidul, berhasil diterima sebagai mahasiswa Program Studi Agronomi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa mampu mengantarkan seseorang meraih impian, meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana.
Ayah Fecia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam sebulan, pendapatannya rata-rata sekitar Rp1 juta untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meski demikian, kedua orang tuanya selalu memberikan dukungan penuh agar putrinya dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Selama menempuh pendidikan di SMAN 1 Wonosari, Fecia dikenal sebagai siswa yang aktif dalam berbagai kegiatan. Ia bergabung dalam Patroli Keamanan Sekolah (PKS) serta menjadi vokalis band sekolah yang kerap meraih prestasi dalam berbagai perlombaan.
Kesibukan organisasi tidak membuatnya mengabaikan prestasi akademik. Fecia berusaha membagi waktu antara kegiatan sekolah dan persiapan menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak berjalan mulus. Ia sempat mengikuti seleksi melalui jalur SNBP dan SNBT, namun belum berhasil lolos. Kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Dengan terus belajar dan berdoa, Fecia akhirnya diterima di Program Studi Agronomi UGM melalui jalur Ujian Mandiri UGM Computer Based Test (UM UGM CBT).
Kecintaannya terhadap dunia pertanian menjadi alasan utama memilih Program Studi Agronomi. Sejak lama, ia memiliki minat dalam budidaya tanaman dan ingin mempelajari ilmu pertanian lebih mendalam agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kebahagiaan keluarga semakin lengkap setelah Fecia memperoleh Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen, sehingga tidak dikenakan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Beasiswa tersebut menjadi jawaban atas kekhawatiran keluarga terkait biaya pendidikan.
Bagi Fecia, kedua orang tuanya merupakan sumber inspirasi terbesar. Pengorbanan mereka menjadi motivasi untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik demi masa depan.
Sementara itu, sang ibu berharap putrinya dapat menjalani perkuliahan dengan lancar dan terus menjaga semangat belajar. Ia menegaskan bahwa keluarga selalu mengajarkan pentingnya berdoa, berusaha semaksimal mungkin, dan menyerahkan hasil kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Di akhir kisahnya, Fecia mengajak para pelajar untuk tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.
«"Tetap semangat dan optimis. Saya percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil," pesannya.»
Kisah Fecia menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dengan tekad, kerja keras, doa, dan dukungan keluarga, mimpi besar dapat menjadi kenyataan.
Info via UGM


0 comments:
Post a Comment